pendekatan dalam manajemen kelas
Tugas Manajemen Kelas Di SD
Tentang
“Pendekatan dalam Manajemen Kelas”
Oleh :
Aisyah Verenia Afra
Bp : 1620139
Kelas : 7.4 pgsd
DOSEN PEMBIMBING:
Yessi Rifmasari M.Pd
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
(PGSD)
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN &
ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
ADZKIA PADANG
2019
PEMBAHASAN
MATERI
A. Pengertian pendekatan manajemen kelas
Pendekatan : adalah usaha / upaya dalam rangka aktivitas yang dilakukan
untuk mengadakan hubungan dengan sesuatu yang menjadi objeknya (siswa) melalui
interaksi timbal balik. Sedangkan Managemen kelas : pengelolaan,
penyelenggaraan, keterlaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk
mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan. Menurut Suharsimi
Arikunto(dalam mudasir,2011) Pengelolaan Kelas dan Siswa, menyebutkan bahwa
manajemen kelas adalah usaha yang dilakukan guru untuk membantu menciptakan
kondisi belajar yang optimal
Jadi dapat disimpulkan bahwa pendekatan
manjemen kelas merupakan suatu cara
yang dilakukan oleh seorang guru dalam managemen kelas akan sangat dipengaruhi
oleh pandangan guru tersebut terhadap tingkah laku siswa, dan situasi kelas
pada waktu seorang siswa melakukan penyimpangan. Keharmonisan hubungan guru dan
siswa, tingginya kerjasama di antara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi.
Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan
dalam rangka pengelolaan kelas.
B. Sikap guru terhadap manajemen kelas
guru bersikap seperti yang dikemukakan
oleh Djamarah (2010) yaitu
1.
Hangat dan antusias, guru yang hangat dan akrab pada
siswa akan menunjukkan antusias pada tugasnya,
2.
Menggunakan kata – kata, tindakan, cara kerja dan bahan
– bahan yang menantang akan meningkatkan kegairahan siswa untuk belajar,
3.
Bervariasi dalam
penggunaan alat atau media pola interaksi antara guru dan siswa,
4.
Guru luwes untuk mengubah strategi mengajarnya,
5.
Guru harus menekankan pada hal – hal yang positif dan
menghindari pemusatan perhatian pada hal – hal yang negatif dan
6.
Guru harus disiplin dalam segala hal.
C. Peran
Guru Sekolah Dasar dalam Manajemen Kelas
Salah satu tugas guru sebagai pendidik di
sekolah adalah sebagai menajer. Seorang guru harus mampu memimpin kelasnya agar
tercipta pembelajaran yang optimal. Fasilitas dan kondisi kelas merupakan salah
satu factor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Padmono (2011, 23)
fasilitas kelas (instrumental in put) berkaitan erat dengan terciptanya
lingkungan belajar (environmental in put) kondusif sehingga murid dengan
senang dan sukarela belajar. Penataan fasilitas dapat menjadi pendorong jika
diorganisir secara baik. Di sinilah peran guru SD dapat terlihat, adapun peran
guru dalam memenej kelas agar tercipta pembelajaran yang efektif sebagai
berikut:
1.
Peran guru
dalam pengorganisasian kelas
Organisasi kelas yang tepat akan mendorong
terciptanya kondisi belajar yang kondusif. Pengorganisasian kelas ini pada
dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi kelas tergantung guru, kelas,
murid, lingkungan kelas, besar ruangan, penerangan, suhu, dan sebagainya. Kita
ketahui pada saat ini penataan kelas secara tradisional yang menempatkan satu
meja guru berhadapan dengan meja kursi siswa. Kelas yang ditata secara
tradisional tersebut menempatkan guru sebagai pusat kegiatan dan sentra
perhatian murid tampak sebagai objek pengajaran bukan sebagai subjek yang
belajar. Akibatnya aktivitas sebagian besar dilakukan guru sedang murid hanya
pasif menerima.
a.
Kelas terbuka
Kelas dapat terdiri dari siswa dengan
berbagai tingkat kelas berbeda. Pelaksanaan model ini dapat dilaksanakan di
Indonesia, jika jadwal pelajaran kelas 1 sampai kelas 6 sama atau diterapkan di
kelas tinggi saja. Misalnya: pada waktu jam pelajaran Bahasa Indonesia, maka
seluruh guru mengajar pelajaran tersebut, sedang siswa masuk ke kelas di mana siswa
menguasai tingkatan yang dicapai. Dengan demikian ada siswa pada mata pelajaran
Bahasa Indonesia masuk kelas III, tetapi pada waktu Matematika masuk kelas IV,
dan mungkin pada pelajaran IPS ke kelas V. Konsep ini mengikuti perkembangan
masing-masing individu.
b.
Kelas dua tingkat
Konsep ini dilaksanakan dengan cara
seorang guru menghadapi kelompok siswa yang berbeda kelas tetapi berdekatan,
misalnya: kelas I dan II, II dan III, III dan IV, dan seterusnya.
c.
Kelas awal
Pembelajaran dengan pendekatan integral
atau terpadu dengan kehidupan anak pada tahap pelaksanaannya menerpadukan
berbagai konsep, topic, bahan pelajaran dengan mengurangi sedikit mungkin
pemisahan-pemisahan secara artificial, bila dimungkinkan guru tidak melabel
bahan kajian dalam mata pelajaran-mata pelajaran. Pembelajaran dikemas menjadi
satumodel pembelajaran yang utuh sehingga pemaknaan terhadap bahan kajian
menjadi alami
2.
Peran guru
dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas sebagaimana diuraikan pada
pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah diubah sesuai pembelajaran
yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat duduk dapat berbentuk :
a.
Seating chart, Penempatan murid dalam kelas dibuat
suatu denah yang pada satu periode waktu tertentu dapat diubah sesuai tuntunan
pembelajaran yang sedang dikembangkan oleh guru, sehingga perkembangan dan
pertumbuhan murid tidak terganggu. Penataan tempat duduk yang didesain dalam
chart dapat digambar sendiri oleh murid atau sekelompok murid secara bergilir,
sehingga keterbatasan penataan tempat duduk secara tradisional ini dapat
diminimalkan pengaruh buruknya.
b.
Melingkar, Model duduk seperti ini dapat digunakan guru
dalam pembelajaran diskusi kelompok, sehingga ada modifikasi untuk
menghilangkan kejenuhan siswa.
c.
Tapal kuda Model ini sesuai untuk melaksanakan diskusi
kelas yang dipimpin oleh guru atau ketua diskusi yang dipilih siswa. Diskusi
kelas akan meningkatkan keberanian dibanding keberanian yang hanya muncul pada
kelompok kecil.
3.
Peran guru
dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat pelajaran dapat klasifikasikan
menjadi beberapa kelompok, antara lain: Menurut kedudukannya; alat pelajaran
dibedakan atas permanen dan tidak permanen. Permanen jika alat pelajaran tersebut
diletakkan di kelas secara terus menerus, misalnya: listrik, papan tulis, dan
sebagainya. Alat pelajaran tidak permanen atau yang bergerak (movable)
yaitu alat pelajaran yang dapat dipindah, misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin,
peta, dan sebagainya. Menurut fungsinya; a) alat untuk menulis; kapur, papan
tulis, pensil, dan lain-lain; b) alat-alat lukis; jangka, meter, segitiga,
buku.
Alat-alat pelajaran tersebut tidak perlu
disimpan ditempat khusus, tetapi cukup diatur di dalam kelas, sehingga bila sewaktu-waktu
digunakan akan cepat.
4.
Peran guru
dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Motto yang menyatakan “bersih adalah sehat
dan rapi adalah indah” merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Setiap
manusia memiliki cita rasa keindahan walaupun derajat keindahannya berbeda.
Keindahan akan memberikan rasa nyaman dan membuat anak betah tinggal di tempat
tersebut. Kelas yang diharapkan mengundang anak untuk betah berada di dalamnya
hendaknya dijaga kebersihan dan keindahannya. Guru memiliki peran untuk
mengorganisir siswanya agar dapat mendesain kelasnya menjadi kelas yang indah.
Keindahan dapat dicapai dengan beberapa cara, yaitu:
a.
menata ruangan menjadi rapi, menata alat pelajaran
sesuai kelompoknya, menata buku sesuai tinggi buku, tebal buku, dan kelompok
buku, penataan alat pelajaran permanent yang sesuai dengan ruangan. Desain
interior yang harmonis akan merangsang anak untuk tenggelam dalam suasana
akademik (Immersion).
b.
penataan meja guru, gambar-gambar merupakan factor
pendukung tercapainya ruangan yang rapid an indah.
D. Macam-Macam Pendekatan Manajemen Kelas
Dalam rangka menciptakan suasana yang
kondusif dalam proses pembelajaran, seorang guru harus memahami dan dapat
memilih pendekatan yang tepat dalam mengelola kelas, sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Berkaitan dengan itu, ada beberapa
pendekatan pengelolaan kelas, yaitu:
a.
Pendekatan Perubahan Perilaku (Behavior Modification Approach)
Dalam pendekatan perilaku inidapat
dikemukakan bahwa mengabaikan perilaku siswa yang tidak diinginkan dan
menunjukan persetujuan atas perilaku yang diinginkan adalah amat efektif dalam
menumbuhkan perilaku yang baik bagi para siswa di kelas, sedangkan menunjukkan
persetujuan atas perilaku siswa yang baik merupakan kunci pengelolaan kelas
yang efektif.
b.
Pendekatan Iklim Sosio-emosional (Socio Emotional Climate Apparoach)
Menurut Rogers Wiliam Glasser Rogers bahwa
pengajar perlu bersifat tulus terhadap siswanya, menerima dan menghargai siswa
sebagai manusia, serta memahami siswa dari sudut siswa itu sendiri, sedangkan
Glasser lebih menekankan pada pentingnya pengajar membina rasa tanggung jawab
dan harga diri siswa. Adapun Rudolf Dreikurs menekankan pentingnya proses
suasana dalam kelas yang demokratis.
c.
Pendekatan Proses Kelompok (Group Processes Approach)
Menurut R.A. Schmuck dan P.A Schmuck
(dalam sulistyrini,2009) bahwa terdapat enam unsure yang berkaitan dengan
pengelolaan kelas. Unsur-unsur yang dimaksud adalah harapan, kepemimpinan,
kemenarikan, norma, komunikasi, dan keeratan hubungan. Johnson dan Bany
mengemukakan dua jenis pengelolaan kelas yang penting adalah kemudahan dan
pemeliharaan.Dari pendekatan tersebut, perlu difahami dan dikuasai oleh guru
dalam rangka mengadakan pengelolaan kelas secara baik.Pendekatan tersebut dalam
realisasinya perlu digabungkan dalam pelaksanaannya dengan mempertimbangkan
kondisi kelas, karakteristik siswa, materi pembelajaran yang akan diajarkan.
d.
Pendekatan Manajerial
Upaya penyelenggaraan pembelajaran dengan
menitikberatkan pada upaya guru untuk mengatur dan mengorganisasi siswa sesuai
dengan persepsi guru terhadap siswa, dengan kata lain pendekatan ini dipilih
berdasar orientasi guru dan ketercapaian target kurikulum yang harus
diselesaikan. Pendekatan ini meliputi:
e.
Pendekatan Kekuasaan atau Otoriter
Pendekatan otoriter adalah pendekatan yang
menempatkan guru dalam peranan menciptakan dan memelihara ketertiban di kelas
dengan menggunakan strategi pengendalian. Guru otoriter bertindak untuk
kepentingan siswa dengan menerapkan disiplin yang tegas. Bila timbul masalah–masalah
yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
f.
Perintah dan Larangan
Baik perintah maupun larangan dapat
diterapkan atas dasar generalisasi masalah–masalah pengelolaan kelas
tertentu.Seorang guru yang melaksanakan perintah dan larangan bersikap reaktif,
namun jangkauannya hanya terbatas pada masalah–masalah yang timbul
sewaktu–waktu saja, sehingga kemungkinan timbulnya masalah pada masa
mendatang kurang dapat dicegah atau ditanggulangi secara tepat.
g.
Penekanan dan Penguasaan
Pendekatan penekanan dan penguasaan ini
banyak mementingkan pada diri guru, banyak memerintah, mengomel dan memarahi.
Bila dalam menghadapi masalah pengelolaan kelas menggunakan pendekatan
penguasaan dan penekanan, maka memungkinkan siswa untuk diam, tertib karena
takut dan tertekan hatinya. Meskipun demikian, namun pendekatan ini kurang
tepat karena kurang toleransi, dan kurang bijaksana.
Unsur-unsur pengelolaan kelas untuk
penerapan pendekatan kerja kelompok ini meliputi hal-hal berikut:
1.
Harapan timbal balik yang nyata dan jelas antara
peserta didik dan guru.
2.
Kepemimpinan guru yang mengarahkan kegiatan kelompok
untuk pencapaian tujuan-tujuan belajar.
3.
Pola dan ikatan persahabatan yang dapat mendukung tiap
kelompok semakin produktif.
4.
Terdapat pemeliharaan norma kelompok yang semakin
produktif.
5.
Terjalinnya komunikasi yang efektif antar anggota
kelompok yang terlibat.
6.
Terdapat derajat keterikatan yang konsisten terhadap
kelompok secara keseluruhan.
7.
Pendekatan elektis atau pluralistic Pada pendekatan
elektis atau pluralistik, pengelolaan kelas dilakukan dengan menggunakan
berbagai macam pendekatan yang memiliki kemungkinan untuk dapat menciptakan dan
mempertahankan suatu kondisi kelas yang memungkinkan kegiatan belajar-mengajar
berjalan efektif dan efisien. Jadi dalam konteks manajemen kelas, pendekatan
elektis atau pluralistik dapat didefinisikan sebagai cara pandang guru yang
beranggapan bahwa guru dapat memilih dan memadukan berbagai pendekatan dalam
manajemen kelas untuk menciptakan kelas yang kondusif.
Setidaknya ada dua syarat yang harus
dipenuhi oleh guru sebagai manajer kelas dalam menerapkan pendekatan ini.
a.
Guru harus menguasai pendekatan-pendekatan dalam
manajemen kelas.
b.
Guru dapat memilih pendekatan yang tepat dan
menerapkannya sesuai dengan masalah manajemen kelas yang sedang dihadapi.
Daftar Rujukan
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan.
2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Mudasir. 2011. Manajemen Kelas.
Yogyakarta: Zanafa Publishing.
Sulistyrini, Manajemen Pendidikan Islam,
(Yogyakarta:TERAS 2009), hlm 98
Suhardan, Dadang et.all. 2009. Manajemen
Pendidikan. Alfabeta: Bandung.
Sangat menambah wawasan dan referensi. Mkasih yaa
BalasHapusMaterinya sngat bagus kak
BalasHapusSangat bagus Dan bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat kakak👍
BalasHapusmaterinya bagus dan bermanfaat kak
BalasHapusMaterinya bagus sekali
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat👍
BalasHapusBagus kak, semoga bermanfaat bagi kita dan pembaca blog lainnya
BalasHapusBagus materinya kak, terima kasih ya 😊
BalasHapusSangat membantu kak
BalasHapussangat bermanfaat kak
BalasHapusMembantu sekali kak, terimakaaih
BalasHapusSangat membantu sekali kak
BalasHapus