tahapan penanggulangan disiplin kelas
Tugas Manajemen Kelas Di SD
Tentang
“Tahapan
Penanggulangan Disiplin Kelas ”
Oleh :
Aisyah Verenia Afra
Bp : 1620139
Kelas : 7.4 pgsd
DOSEN PEMBIMBING:
Yessi Rifmasari M.Pd
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
ADZKIA PADANG
2019
Tahapan Penanggulangan
Disiplin Kelas
A.
Tindakan Preventif (Pencegahan)
Preventif
secara etimologi berasal dari bahasa latin pravenire yang artinya datang
sebelum/antisipasi/mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang
luas preventif diartikan sebagai upaya secara sengaja dilakukan untuk mencegah
terjadinyan gangguan, kerusakan, atau kerugian bagi seseorang.
Menurut
Rachman (1997) Tindakan preventif (pencegahan) adalah tindakan yang dilakukan
sebelum munculnya tingkah laku yang menyimpang yang mengganggu kondisi optimal
berlangsungnya pembelajaran. Upaya ini dilakukan dengan pemberian pengaruh yang
positif terhadap individu serta dengan menciptakan suasana lingkungan sekolah,
termasuk pengajaran yang menyenangkan.
Tindakan Preventif merupakan suatu tindakan
pengendalian sosial yang dilakukan untuk dapat mencegah atau juga mengurangi
kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang.
Tindakan preventif (pencegahan) ini dilakukan manusia, baik itu secara pribadi
atau juga berkelompok untuk dapat melindungi diri mereka dari hal buruk yang
mungkin dapat terjadi.
Tindakan preventif
adalah tindakan untuk melakukan pencegahan dimana sasarannya adalah
mengembalikan permasalahan siswa yang tidak terlepas dari faktor lingkungan di
mana ia tinggal.
Menurut Rachman (dalam Tim Dosen Administrasi
Pendidikan, 2012: 119) mengemukakan langkah-langkah Tindakan Preventif (pencegahannya)
sebagai berikut:
1.
Peningkatan
kesadaran diri sebagai guru
Sikap
guru terhadap kegiatan profesinya akan banyak mempengaruhi terciptanya kondisi
belajar mengajar atau menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan
terjadinya belajar.
Oleh
karena itu, langkah utama dan pertama yang strategis dan mendasar dalam
kegiatan pengelolaan kelas adalah "Peningkatan kesadaran diri sebagai guru.”
Apabila seorang guru sadar akan profesinya sebagai guru pada gilirannya akan
meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yang merupakan modal dasar
bagi guru dalam melaksanakan tugasnya.
Implikasi
adanya kesadaran diri sebagai guru akan tampak dalam sikap guru yang demokratis
tidak otoriter, menunjukan kepribadian yang stabil, harmonis serta berwibawa.
Sikap demikian pada akhirnya akan menumbuhkan atau menghasilkan reaksi serta
respon yang positif dari siswa sekolah dasar.
2.
Peningkatan
kesadaran siswa
Meningkatkan
kesadaran diri sebagai guru tidak akan ada artinya tanpa diikuti meningkatnya
kesadaran siswa sebab apabila siswa tidak atau kurang memiliki kesadaran
terhadap dirinya tidak akan terjadi interaksi yang positif dengan guru dalam
setiap kegiatan belajar mengajar. Pada akhimya dapat mengganggu kondisi optimal
dalam rangka belajar mengajar. Kurangnya kesadaran siswa terhadap dirinya
ditandai dengan sikap yang mudah marah, mudah tersinggung, mudah kecewa, dan
sikap tersebut akan memungkinkan siswa melakukan tindakan-tindakan yang kurang
terpuji.
Untuk
menanggulangi atau mencegah munculnya sikap negatif tersebut guru harus
berupaya meningkatkan kesadaran siswa melalui tindakan sebagai berikut:
a.
Memberitahukan
kepada siswa tentang hak dan kewajiban siswa sebagai anggota kelas.
b.
Memperhatikan
kebutuhan dan keinginan siswa.
c.
Menciptakan
suasana adanya saling pengertian yang baik antara guru dan siswa.
3.
Sikap
Polos dan Tulus dari Guru
Guru
dituntut untuk bersikap polos dan tulus, artinya guru dalam tindakan dan sikap
keseharian selalu "Apa adanya" tidak berpura-pura. Guru dengan sikap
dan kepribadiannya sangat mempengaruhi lingkungan belajar, karena tingkah laku,
cara menyikapi, dan tindakan guru merupakan stimulus yang akan direspon dan
diberikan reaksi oleh para peserta didik. Kalau stimulus itu positif maka
respon yang diberikan juga akan positif. Sebaliknya jika stimulus yang
diberikan negatif maka respon yang diberikan adalah negatif.
Sikap
hangat, terbuka, mau mendengarkan harapan dan atau keluhan para siswa, akrab
dengan guru akan memungkinkan terjadinya interaksi dan komunikasi wajar antara
guru dan peserta didik. Tindakan dan sikap demikian akan memberikan rangsangan
positif bagi siswa, khususnya siswa sekolah dasar dan siswa akan memberikan
respon atau reaksi positif. Penciptaan suasana sosioemosional di dalam kelas
akan banyak dipengaruhi oleh polos tidaknya dan tulus tidaknya sikap guru yang
pada gilirannya akan berpengaruh penciptaan kondisi lingkungan yang optimal
dalam rangka proses belajar mengajar.
4.
Mengenal
dan menemukan alternatif pengelolaan
Langkah
ini mengharuskan guru agar mampu:
a.
Mengidentifikasi
berbagai penyimpangan tingkah laku siswa yang bersifat individual atau kelompok.
Termasuk di dalamnya penyimpangan yang sengaja dilakukan siswa sekolah
dasar yang tujuannya hanya sekedar untuk menarik perhatian guru atau
teman-temannya.
b.
Mengenal
berbagai pendekatan dan pengelolaan kelas dan menggunakan sesuai dengan situasi
atau menggantinya dengan pendekatan lain yang telah dipilihnya apabila pilihan
pertama mengalami kegagalan.
c.
Mempelajari
pengalaman guru-guru lainnya baik yang gagal atau berhasil sehingga dirinya
mempunyai alternatif yang bervariasi dalam berbagai problem pengelolaan manajemen
kelas di sekolah dasar.
5.
Menciptakan
"kontrak sosial"
Kontrak
sosial pada dasarnya berkaitan dengan "Standar tingkah laku" yang
diharapkan dan memberikan gambaran tentang fasilitas beserta keterbatasannya
untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan sekolah. Dengan kata lain "Standar
tingkah laku yang memadai dalam situasi khusus".
Suatu
persetujuan umum tentang bagaimana sesuatu dibuat, tindakan sehari-hari yang
bagaimana yang diperbolehkan. Standar tingkah laku ini tidak membatasi
kebebasan siswa akan tetapi merupakan tindakan pengarahan ke arah tingkah laku
yang memadai atau yang diharapkan dalam beberapa situasi.
Standar
tingkah laku harus melalui "Kontrak sosial" dengan siswa. Dalam arti
bahwa aturan yang berkaitan dengan nilai atau norma yang turun dari atasan
(guru/sekolah) tidak timbul dari bawah akan mengakibatkan aturan tersebut
kurang dihormati atau ditaati, sehingga perumusannya perlu dibicarakan atau
disetujui bersama oleh guru dan siswa.
Yang dilakukan dalam usaha preventif (Pencegahan) di
lingkungan sekolah antara lain:
1.
Memberikan bimbingan
2.
Mengadakan hubungan baik dengan
orangtua murid dengan sekolah sehingga ada saling pengertian
3.
Memberikan motivasi belajar pada
siswa
4.
Mengadakan pengajawan
ekstrakurikuler
5.
Memantau perkembangan anak
Contohnya:
1.
Guru menasihati murid agar tidak
terlambat datang ke sekolah.
2.
Tindakan orang tua membatasi
anaknya yang di bawah umur dalam menggunakan gadget, merupakan tindakan
preventif agar si anak tidak kecanduan bermain gadget.
B.
Tindakan Kuratif (Penyembuhan)
Upaya Kuratif disebut juga upaya
korektif yaitu usaha untuk merubah permasalahan yang terjadi dengan cara
memberikan pendidikan dan pengarahan kepada mereka (merubah keadaan yang salah
kepada keadaan yang benar)
Tindakan kuratif (penyembuhan) adalah tindakan yang diambil
setelah terjadinya tindak penyimpangan sosial. Tindakan ini ditujukan untuk memberikan
penyadaran kepada para pelaku penyimpangan agar dapat menyadari kesalahannya
dan serta mampu memperbaiki kehidupannya, sehingga di kemudian hari tidak lagi
mengulangi kesalahannya.
Dalam kegiatan memanajemen kelas, pelanggaran yang sudah terlanjur
dilakukan peserta didik atau sejumlah peserta didik perlu ditanggulangi dengan
tindakan penyembuhan baik secara individual maupun secara kelompok.
Menurut Johar Permana (dalam Abdul Majid 2013:122) mengemukakan
ada 5 langkah-langkah kegiatan Tindakan Penyembuhan (Kuratif) yaitu sebagai
berikut:
1. Mengidentifikasi
masalah
Pada langkah pertama ini guru melakukan kegiatan untuk
mengenal atau mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam kelas. Dari
masalah-masalah tersebut guru harus dapat mengidentifikasi jenis-jenis
penyimpangan sekaligus mengetahui siswa yang melakukan penyimpangan tersebut.
2. Menganalisa
masalah
Pada langkah kedua ini, kegiatan guru adalah berusaha
untuk menganalisa penyimpangan tersebut dan menyimpulkan latar belakang dan
sumber dari pada penyimpangan itu. Setelah diketahui sumber penyimpangan guru
kemudian melanjutkan usahanya untuk menentukan alternatif-alternati penanggulangan
atau penyembuhan penyimpangan tersebut.
3. Menilai
alternatif-alternatif pemecahan, menilai dan melaksanakan salah satu alternatif
pemecahan
Pada langkah ketiga ini, kegiatan yang dilakukan
adalah memilih alternatif berdasarkan sejumlah alternatif pemecahan masalah
yang telah disusun. Artinya alternatif mana yang paling tepat untuk
menanggulangi penyimpangan tersebut.
4.
Melaksanakan alternatif yang
telah ditetapkan
Setelah
ditetapkan alternatif yang tepat maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan
alternatif tersebut.
5.
Mendapatkan balikan dari hasil
pelaksanaan alternatif pemecahan masalah yang dimaksud.
Langkah
ini didahului dengan langkah monitoring yaitu kegiatan untuk mendapatkan data
yang merupakan balikan untuk menilai apakah pelaksanaan dari alternatif
pemecahan yang dipilih telah mencapai sasaran sesuai dengan yang direncanakan
atau bahkan terjadi perkembangan baru yang lebih baik, semua ini merupakan
dasar untuk melakukan perbaikan program.
Kegiatan
kilas balik seperti itu dapat dilakukan dengan mengadakan pertemuan dengan
peserta didik. Dengan pertemuan tersebut perlu dijelaskan tujuan peetemuan dan
manfaat pertemuan. Manfaat pertemuan perlu dijelaaskan karena untuk memberikan
kesadaran pada peserta didik bahwa pertemuan yang dilakukan diusahakan dengan
penuh ketulusan, semata- mata untuk perbaikan, baik untuk peserta didik maupun
sekolah.
Selain
itu perlu disikapi pengendalian perilaku guru dalam pertemuan tersebut.
Tunjukkan kepada peserta didik bahwa guru bukan orang yang sempurna atau tidak
bebas dari kekurangan dan kelemahan. Sehingga antara peserta didik diperoleh
kesadaran untuk bersama-sama belajar saling memperbaiki dan saling
mengingatkan, yang semuanya itu untuk kepentingan bersama. Informasi yang
diperoleh dari balikan ini merupakan bahan yang sangat berguna untuk menilai
program, dan akhirnya merupakan dasar melakukan perbaikan program.
Menurut Ahmad Rohani (2010:162) mengemukakan
langkah-langkah implementasi yang dapat dilakukan dalam tindakan penyembuhan
(Kuratif) sebagai berikut:
1.
Mengidentifikasi peserta
didik yang mendapat kesulitan untuk menerima dan mengikuti tata tertib atau
menerima konsekuensi dan pelanggaran yang dibuatnya
2.
Membuat rencana yang
diperkirakan paling tepat tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dalam
mengadakan kontrak dengan peserta didik.
3.
Menetapkan
waktu pertemuan dengan peserta didik tersebut yang disetujui bersama
oleh guru dan peserta didik yang bersangkutan
4.
bila saatnya pertemuan dengan
peserta didik jelaskanlah maksud diperoleh baik oleh peserta didik maupun oleh
sekolah
5.
Tunjukkanlah kepada peserta
didik bahwa guru pun bukan orang yang sempurna dan tidak bebas dari kekurangan
dan kelemahan dalam berbagai hal. Akan tetapi yang penting antara guru dan peserta
didik harus ada kesadaran untuk bersama-sama belajar saling memperbaiki diri,
saling mengingatkan bagi kepentingan bersama.
6.
Bila pertemuan yang diadakan dan ternyata peserta
didik responsif maka guru bisa mengajak peserta didik untuk melaksankan
diskusi tentang masalah yang dihadapinya
7.
Pertemuan guru dan peserta
didik harus sampai kepada pemecahan masalah dan sampai kepada “kontak
individual” yang diterima peserta didik dalam rangka memperbaiki tingkah
laku peserta didik tentang pelanggaran yang dibuatnya
8.
Melakukan kegiatan tindak lanjut.
Contoh kasus
tindakan kuratif beserta penyelesainnya:
1.
Seorang guru menegur dan
menasihati siswanya karena ketahuan menyontek pada saat ulangan bertujuan untuk
memberi penyadaran kepada perilaku dan memberi efek jera.
2.
Suka penyelewengan waktu belajar untuk kegiatan-kegiatan yang kurang
bermanfaat, seperti, omong kosong sambil merokok. Akibat konsentrasi pikirannya
menjadi lemah karena kurang tidur atau istirahat, suka melamunkan impian-impian
kosong, kecanduan dan sebagainya. Tindak preventif adalah menjaga
keharmonisan hubungan antar sivitas akademika dengan melibatkannya dalam
kesibukan-kesibukan kecil sampai kesibukan besar yang menghasilkan sukses,
sehingga tidak menimbulkan rasa patah semangat atau kebencian-kebencian kepada
tugas-tugas, khususnya tugas-tugas akademik. Secara tindak kuratif atau harus
dilakukan penyembuhan terhadap pelaku.
3.
Suka membolos atau meninggalkan
pelajaran mengakibatkan siswa ketinggalan pelajaran, atau kehilangan bagian
penting dari pelajaran, lebih-lebih bila pelajaran itu bersifat prerekuisit
(misalnya matematika), maka kerugian-kerugian itu akan semakin menjadi
"momok" dari studinya.
Secara preventif
Dianjurkan kepada para guru agar
meningkatkan profesionalitasnya dalam PBM sehingga pengajaran lebih menarik
minat belajar siswa, baik secara metodologis maupun karena penggunaan
multimedia serta alat peraga yang populer dan inovatif-kreatif. Sesungguhnya bila
PBM semakin menarik, kecenderungan untuk membolos semakin kecil. Sebaliknya PBM
yang membosankan meningkatkan hasrat membolos bagi para siswa.
Secara Kuratif
a.
Dianjurkan kepada guru agar dapat
melakukan deteksi sedini mungkin terhadap kebiasaan membolos para siswanya,
dengan melakukan pendekatan edukatif kepada para pembolos serta meningkatkan
disiplin pengajarannya, disertai introspeksi dan retrospeksi terhadap cara
pengajaran masing-masing.
b.
Diskusi dengan guru-guru mata
pelajaran sejenis serta guru-guru senior pakar sangat diperlukan. Jangan hanya
melakukan tindakan sepihak dengan melemparkan kesalahan kepada siswa selalu,
mungkin sistem instruksional guna sendiri yang perlu direvisi dan ditingkatkan.
c.
Strategi pembuatan soal tes serta
sistem evaluasinya perlu ditinjau kembali.
d.
Dekatilah siswa-siswa Anda agar
dapat mengungkapkan problema-problema yang perlu dipecahkan, yang merupakan
kendala belajar/PBM.
e.
Bersikap angkuh atau menakutkan
atau bersikap "angker" di hadapan siswa bukanlah merupakan sikap guru
yang ideal. Tindak bijaksana secara edukatif perlu dipelihara demi menciptakan
iklim sosioemosional yang positif, dan tindakan ini bukan merupakan tindak yang
menurunkan wibawa guru.
Pertayaan
saat diskusi :
1.
Tika rahma dita; jelaskan bagaimana
upaya seorang guru untu meningkatkan kesadaran siswa melalui tindakan preventif
(pencegahan).
2.
Delvina: berikan contoh prilaku
disiplin dari guru terhadap murid agar tidak ada pelanggran disiplin kelas?
3.
Sari rahma dewi: alternatif apa
yang diberikan oleh guru jika ada siswa yang bermasalah?
4.
Resi hayati: jelaskan tindakan
kuratif pada penanganan penyimpangan sosial?
DAFTAR PUSTAKA
Abdul,
Majid. 2013. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi
Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ahmad, Rohani. 2010. Pengelolaan Pembelajaran. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Rachman,
Maman. 1997. Manajemen Kelas.
Semarang: Depdikbud Ditjen Dikti.
Tim
Dosen Administrasi Pendidikan. 2012. Manajemen
pendidikan. Bandung: Alfabeta

Sangat bermanfaat kakš
BalasHapusBermanfaat sekali kak
BalasHapusAlhamdulillah, jika sangat bermanfaat jadi senang bisa share ilmu
HapusMaterinya bermanfaat kak
BalasHapusSangat menambah wawasan dan referensi. Mkasih yaa
BalasHapusBagus sekali materinya
BalasHapussngat bermanfaat kak
BalasHapusBagus sekali
BalasHapusmaterinya sangat bermanfaat kak
BalasHapusMaterinya bagus sekali
BalasHapusBagus kak, semoga bermanfaat bagi kita dan pembaca blog lainnya
BalasHapusAlhamdulillah terima kasih kak
HapusSangat bermanfaat kakakš
BalasHapusBagus materinya kak, terima kasih ya š
BalasHapusIya terima kasih kembali
HapusTerimaksih kak
BalasHapusterima kasih kak, sangat bermanfaat
BalasHapusSangat membantu sekali kak
BalasHapusSangat bagus materinya kak
BalasHapusMakasih ya atas ilmunya
BalasHapusHow to Open a New Casino: Tips to Know Before you Start
BalasHapusAfter you have made a deposit, ģģ ė¶ ģ¶ģ„ģµ you ķ주 ģ¶ģ„ģµ will have ģģ² ģ¶ģ„ģµ to make a minimum deposit of $10 using ė¶ģ°ź“ģ ģ¶ģ„ė§ģ¬ģ§ a ėķ“ ģ¶ģ„ė§ģ¬ģ§ bonus code that grants you a 100% first deposit